Apa rencana anda merayakan datangnya tahun baru? Wisata bareng keluarga kah? Kencan dengan kekasih tercinta? Jalan bareng dengan club motor atau mobil? Nonton konser musik kesukaan dari mulai pop, rock, sampai dangdut? teriup terompet ramai-ramai ? atau kegiatan happy lain baik yang mungkin belum terencana pasti.
Ya, apapun rencana yang telah disusun, yang pasti berita beberapa hari lalu menyebutkan bahwa seluruh hotel di kawasan puncak, bandung, surabaya, bali dan kota-kota wisata lain telah ludes dibooking beberapa hari menjelang tahun baru. Tiket pesawat, kereta api, kendaraan bis untuk berbagai destinasi juga banyak banyak yang sudah dibooking.
Seperti ulasan saya beberapa waktu lalu, bahwa semua itu merupakan pilihan. Tentu tak bisa dihakimi karena masing-masing punya cara pandang sendiri. Bagaimanapun tahun baru tetap dinilai sebagai momen istimewa karena dalam setahun hanya terjadi satu sekali saja. Wajar bila nuansa acara yang digelar dipenuhi gebyar dan glamour.
Namun demikian, ditengah derasnya arus globalisasi yang menghadirkan dunia tak berbatas, sehingga gaya hidup orang barat begitu mudahnya diakses untuk kemudian diikuti oleh orang timur, maka sikap “waspada” mestinya harus selalu diberlakukan. Kita adalah bangsa yang berkarakter beda dengan mereka. Mestinya punya pilihan yang berkesusaian dengan nilai-nilai positif.
Manusia Indonesia, dalam perjalanannya telah mengalami berbagai transformasi. Sebagai akibat pengaruh kehidupan dari berbagai masa mulai dari jaman tradisional, penjajahan, kemerdekaan sampai dengan era reformasi saat ini, transformasi tersebut telah mengubah wajah kekinian manusia Indonesia.
Muhtar Lubis dalam bukunya pernah menyebut, bahwa penyakit “hipokrit” menjadi ancaman serius kemanusiaan Indonesia. Hal ini dipengaruhi oleh budaya kurang jujur oleh karena sungkan atau dengan falsafah ABS atau asal bapak senang, Tak beda jauh, Umar kayam dalam bukunya Para priyayi juga menyebut bahwa budaya “konjuk kabekten” atau setor upeti (fee/komisi) menjadi warisan budaya negatif yang harus diwaspadai.
Disisi lain, derasnya arus informasi ikut pula mempengaruhi mindset dan cultureset manusia Indonesia. Budaya individualis telah mewabah seiring dengan banyaknya tayangan terutama lifestyle ala barat. Kebersahajaan, atau sikap “narimo” semakin lenyap sehingga kasus bunuh diri sebagai akibat keputusasaan semakin meningkat tajam. Tak hanya wong cilik di desa, tapi orang terpelajarpun sudah tak lagi aneh menjadi pelaku bunuh diri.
Karakter santun, ramah dan tidak jahil juga semakin langka ditemui. Di berbagai tempat sudah dipenuhi kejahatan dan kriminalitas. Preman jalanan mengintai di setiap sudut. Tak mau kalah preman berkerah putih juga memainkan aksinya. Dengan falsafah,”kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah?” merekapun beraksi layaknya koboi jalanan. Minta secara halus, sampai dengan cara kasar.
Kita bisa lihat dengan menjamurnya “pak ogah” sang pengatur jalan di setiap tikungan yang kemudian setiap pengendara tanpa hukum tertulis harus menyerahkan uang jasa, ternyata setelah ditelisik ada backing-nya. Pun halnya ketika urus perkara di berbagai institusi pemerintah, tampaknya tak lepas dari pelicin jika ingin mengurus lebih cepat.
Budaya tak jujur, mengambil kesempatan ditengah kesempitan orang, bahkan berlaku curang tampaknya menjadi bahan penting evaluasi kemanusiaan kita sebagai orang Indonesia. Jika kita menggunakan pancasila sebagai dasar negara, tentu salah satu nilai yang harus dipegang adalah kemanusiaan yang adil dan beradab.
Adil artinya kita tidak berlaku curang, merugikan orang, sehingga tak pernah mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya, taruhlah korupsi. Sedangkan beradab dapat diartikan sebagai tata perilaku yang seharusnya selalu diwarnai kesantuan, ke-adaban, tauladan, dan segala perikemanusiaan lainnya.
Nah, bisakah perayaan tahun baru 2013 ini akan memberi pengaruh positif bagi penumbuhkembangan sikap positif seperti diatas? Semua berpulang pada konsepsi masing-masing. Sebagai manusia Indonesia, seharusnya kita tidak kehilangan nilai dari dibangunnya Indonesia itu sendiri. Negeri yang dulu dibangun dengan segala darah dan keringat pahlawan ini, bukanlah negeri pembebek atau sekedar follower saja.
Perubahan karakter menjadi kata kunci transformasi pada kemanusiaan yang lebih baik. Melalui evaluasi diri, kita akan bisa mengetahui, memilih dan mengambil jalan keluar atas kemanusiaan kita yang semakin kurang tertata. Manusia Indonesia adalah manusia Indonesia, bukan hanya raga saja sedang sikap, mindset, sampai dengan perilaku justru mencerminkan negara lain.
Perayaan tahun baru 2013 sungguh akan lebih bermanfaat jika seluruh elemen bangsa ini melakukan evaluasi diri sehingga bertemu pada satu titik bahwa Indonesia harus bangkit dari keterpurukannya dan semua itu bisa dimulai dari kebangkitan karakter manusia itu sendiri, melepaskan diri dari segala sikap tak terpuji, seperti curang, tidak jujur, munafik atau hipokrit dan lain sebagainya.
So, masihkan kita bangga dengan nuansa glamour, pesta nan ceria yang digelar hanya untuk menyenangkan emosi tanpa penguatan dan peneguhan akal sehat kita sebagai manusia indonesia yang berbudaya mulia?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar