Tahun 2003, selepas wisuda di bulan november terselip bingung di pikiranku. Mencari kerja yang cocok berbekal ijazah sarjana sejarah. Berbagai berita lowonganpun kuakses. Koran, tentu rajin kubuka setiap hari sabtu yang memang menjadi hari nasional pengumuman lowongan. Tak hanya koran lokal seperti radar jember ataupun Jawa Pos, tapi koran nasional sekelas Kompaspun tak kulewatkan.
Untuk menyempurnakan ihtiar, kucari berita dari internet. Lowongan satu ke lowongan coba kuperhatikan. Jika hanya diminta kirim email, maka keberaniankupun muncul. Tak peduli sesuai persyaratan atau tidak, yang penting kirim. Urusan dipanggil atau tidak yang penting setiap hari atau minggu selalu ada kemajuan melamar kerja.
Hari berganti bulan. Hampir satu tahun lamanya aku tidak mendapat panggilan test kerja. Hatipun harus dipaksa tegar (kata lain malu) menyandang status pengangguran. Dalam permenunganku, apakah semua itu berhubungan dengan ijazahku yang hanya lulusan sejarah. Sebagian orang, termasuk juga teman-teman dekatku, meragukan nilai jual ijazah ini.
Konon, tidak banyak instansi apa yang siap menampung lulusan berijazah sejarah. Begitu pula, jenis perusahaan yang bergerak di bidang apa yang “rela” menerima karyawan dengan keahlian sejarah. Beberapa seniorku, yang kuketahui juga banyak yang banting setir menjadi petani, peternak, penjual ikan, pelan tapi pasti mempengaruhi pikiranku.
“Jangan-jangan ijazah sejarah memang tak dibutuhkan?. Lantas, mengapa jurusan ini masih dibuka?, tanyaku dalam hati. Ditengah kegalauan itulah, pikiranku mengkoreksi. Core competencey sarjana sejarah memang beda (bahasa lainnya bias) bila dibanding dengan ilmu teknis apalagi yang relevan dengan dunia usaha seperti manajemen keuangan, akuntansi, administrasi niaga dan lain sebagainya.
Seloroh teman kala itu, buat apa mempelajari ilmu sejarah, itu kan masa lalu? Sesuatu yang sudah terjadi. Trus hasilnya apa kalo sudah mempelajari sejarah? Ada ketrampilan teknis yang relevan dengan dunia kerja tidak?. Begitulah, seloroh yang masih kuingat sehingga rasa minderpun pernah muncul. Waktu pertama kali mempelajari sejarah, memang sebagian teman termasuk diriku sempat berseloroh pula, jika memilih jurusan sejarah ibarat orang tersesat.
Memang, beberapa temanku di tengah perjalanan kuliah mengundurkan diri dengan berbagai alasan. Ada yang pindah jurusan, ada yang tidak tertarik kuliah lagi, dan lain sebagainya. Jumlah mahasiswa jurusan ini yang tak lebih dari 20 orang, di akhir wisuda menyisakan sedikit orang yang lulus karena masih kuat bertahan. Masa tempuh kuliahnyapun relatif lama karena durasinya rata-rata 5-6 tahun.
Ya, bagaimanapun takdir harus diisi dengan semangat bertarung. Tahun 2005, kucoba pergi ke jakarta. Mencari lembaga, instansi yang cocok dengan ijazahku. LIPI diantara tujuanku. Namun, salah seorang pegawai disana terkait ijazah dan kredibilitas perguruan tinggiku menyangsikanku. Aku agak down, meskipun berkas lamaran tetap kutaruh.
Selain LIPI, aku pergi ke gedung BPPT untuk menuju kantor beasiswa mombukagakusho. Tapi sekian waktu kemudian tak ada kabar. Akupun sadar mungkin semua terkait standar kompetensi yang tak bisa kupenuhi, mulai dari nilai IPK, kemampuan bahasa, profile kepribadian sampai dengan peluang ijazah ilmu sejarah itu sendiri.
Sampai dengan tahun 2007, aku masih lontang-lantung. Kesana kemari tanpa profesi yang pasti. Untuk mengisi kesibukan aku menjadi asisten field research. Pada tahun 2005, saya sempat bertemu seorang peneliti dari Keio University Jepang, yang seorang indonesianis dan tinggal di daerah Lenteng Agung. Dari situlah aku diberi kepercayaan membantu dia dari jember.
Tanpa mengurangi syukur, kala itu setiap bulan aku menerima upah Rp.300 ribu/bulan. Cukup gak cukup harus cukup, karena Tuhan tak mungkin membiarkan hamba-Nya lapar dan berkesusahan. Aku juga berusaha untuk menulis artikel yang beberapanya aku kirim ke media. Namun menjadi penulis yang terakui oleh media tak mudah. Dibutuhkan kesabaran karena bisa jadi dalam setahun tak satupun tulisan diterbitkan.
Pada awal 2007, aku mampir ke Solo sepulang dari Bandung untuk keperluan penelitian. Disitulah aku bertemu orang jepang bernama Minoru Ouchi, yang kala itu bekerja di proyek pengendalian banjir di Waduk Wonogiri. Secarik kartu nama kudapat dari insinyur bermata sipit itu. Tak sampai 10 menit pertemuan itu pun berlalu.
Takdir membawa perubahan. Seperti kata orang bijak, perubahan pasti terjadi. Entah dipaksa, entah sukarela. Pada tahun 2007 ayahku meninggal dunia menyusul ibuku yang telah meninggal tahun 2000 silam. Ada sejuta galau sejak kejadian ini. Tentu terkait pekerjaan yang bisa memberi penghasilan cukup untuk memenuhi kebutuhanku, adiku, dan seorang ibu sambung (tiri).
Tuhan maha pendengar. Selalu adil atas kuasanya. Secarik kartu nama Minoru Ouchipun kumanfaatkan.
Aku berkirim email kepadanya dan langsung dibalas bahwa aku disilahkan berangkat ke Solo untuk bekerja bersamanya. Setengah kaget tak percaya, keesokannya akupun pergi ke Solo dan selama 4 bulan kemudian aku dipercaya sebagai asisten ahli lingkungan bernama Sakai. Bisa gak bisa, aku harus bisa. Aku tak pedulikan lagi ijazah sejarahku. Tentu tidak nyambung dengan pekerjaan yang kugeluti kala itu. Namun tekad dan semangat menjadi pendampingku agar aku tidak dikatakan bodoh alias tak sanggup
Tidak ada komentar:
Posting Komentar