Minggu, 06 April 2014

Cintailah Bumi, agar Bumi Balas Mencintai

Jumat, 7 Desember 2012 lalu, saya mendatangi desa Wanayasa. Desa dengan kontur pegunungan ini, merupakah salah satu desa di kecamatan Beber, kabupaten Cirebon. Persisnya di bagian selatan Cirebon, arah ke kabupaten Kuningan.

Setelah mewawancarai beberapa warga di sawah, saya mendatangi Kantor Desa. Disitulah saya bertemu beberapa kaum ibu, termasuk Kuwu (red.Kades). Tampak terlihat beberapa makanan yang dibungkus kresek sedang ditata, sementara kaum ibu yang lain silih berganti datang mengantar makanan.

Kejadian itu membuatku terusik bertanya.
“mau ada acara apa Bu?” tanyaku pada Kuwu perempuan tersebut.
“oohh ini, setelah sholat jumat nanti mau ada selamatan”, terangnya
“Selamatan untuk apa Bu?”, tanyaku lagi
“Ya, tujuannya untuk sedekah bumi, itung-itung sebagai tanda syukur lah..” terangnya.
Penasaran, akupun bertekad mengikuti acara tersebut. Setelah mengikuti sholat jumatan, di masjid yang masih satu areal dengan kantor desa , aku lihat puluhan bahkan ratusan warga berkumpul yang dalam istilah sunda “ngariung”. Tampak kulihat keakraban, kerukunan dan yang tak kalah penting kekhidmatan tatkala sang Kyai memanjatkan doa. Seusai acara, makanan yang sudah disiapkan sejak pagi itu dibagi dan disantap bersama.

Ya, yang pasti tak ada spanduk, baliho, baner atau media publikasi di lokasi tersebut. Orang luar hanya bisa bertanya seraya mendalami maksud yang tersimpan dalam batin warga. Sikap khusyuk tatkala Sang Kyai memimpin doa, mungkin sebagai penanda dialog batin mereka terhadap Tuhan yang menguasai alam. Ya, tentu hanya mereka yang tahu atas maksud terdalam berikut pengaruh yang dihasilkan

Ya, bagaimanapun kita harus bisa memahami pilihan dan gaya dialog orang desa. Meskipun sedekah bumi bukan satu-satunya pilihan dialog, tapi mereka sadar bahwa melalu tradisi tersebut terjalin komunikasi atas kesadaran mereka bahwa beras, buah-buahan, sayur mayur merupakan anak-pinak hasil bumi. Mereka tahu bahwa semua itu bukan terjadi begitu saja, ada kuasa besar yang telah menggerakkannya.

Inilah hikmah yang bisa kita teruskan lebih dalam lagi dari kejadian tersebut. Sebagai kaum berpendidikan, tentu kita harus lebih luas dalam memaknai konsep sedekah bumi. Memang Sedekah bumi harus disertai aksi nyata, terpadu dan kontinyu sehingga tidak menjadi gerakan ritual, apalagi hanya untuk menggugurkan tradisi saja.

Namun, satu hal yang dapat digarisbawahi, di tengah maraknya aksi penanggulangan bencana seperti dengan gerakan menanam pohon, gerakan membuang sampah organik dan un-organik, bebas polusi dan lain sebagainya, kita patut bertanya mengapa gerakan tersebut kadang hanya berhenti di seremonialnya saja, alih-alih di media kampanyenay saja seperti dibaliho, signboard, dan lain sebagainya. Alhasil, gerakan hanya sebatas kampanye untuk pencitraan saja.

Sebagai otokritik, lihatlah bagaimana cara dialogi kita terhadap bumi. Sering kita mengikuti seminar, workshop atau pelatihan penyelamatan bumi, namun lokasinya dihotel, di mall atau ditempat lain yang tidak relevan dengan langkah penyelamatan bumi itu sendiri. Mengapa? Ya karena ditempat-tempat tersebut justru sering kita temui pemborosan energi dan perusakan lingkungan lainnya.

Maka harus diadakan perubahan mindset penyelamatan bumi. Salah satunya adalah dengan memperbanyak ungkapan terima kasih kepada bumi. Layaknya orang berterimakasih, kita pasti akan selalu menunjukkan perilaku baik dan mulia dihadapan orang yang telah memberi. Tentu tak cukup dengan hanya ucapan, kita harus menunjukkan balas budi sebisa mungkin atas pemberian itu.

Jadi, sedekah bumi bisa dikembangkan menjadi konsep, dimana kita tidak lagi bertindak ngawur terhadap bumi. Contoh, mengurangi polusi udara dengan mengurangi penggunaan kendaraan bermorot, mengurangi polusi tanah dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia, plastik dan limbah lainnya dan tentu masih banyak tindakan positif lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar