Gerbang Tol Pasteur Kota Bandung adalah satu dari sekian saksi betapa banyaknya mobil yang memasuki Kota Bandung setiap kali weekend. Ratusan mobil bahkan pada musim tertentu mencapai ribuan unit, setia mengantarkan penumpangnya. Cihampelas, Cibaduyut, Gedung sate, Factory Outlet, tangkuban perahu, kebun teh lembang, outbond sampai dengan tempat pemandian air panas Ciater ramai dikunjungi.
Weekend menjadi saksi waktu betapa padatnya setiap sudut jalan di Kota Bandung.Ia juga menjadi saksi tingginya okupasi hotel berbintang seperti TransStudio, Hilton yang semalem bisa mencapai Rp.4-5 juta untuk jenis kamar tertentu. Tak mau kalah, hotel melati sampai dengan penginapanpun selalu penuh sesak. Selain hotel, plaza selalu ramai dikunjungi.
Pemandangan yang paling indah dijumpai adalah di kawasan traffic light. Di perempatan atau pertigaan jalan, kemacetan jadi langganan. Deretan mobil memanjang antri menunggu sign hijau. Bunyi klakson bersautan diselingi umpatan dan cacian. Kesempatan itu sering digunakan oleh pengamen, kaum pengemis, bahkan ada juga waria untuk menghibur dan meminta.
Tapi tetap saja kemacetan adalah kebosanan. Tak ada yang akrab atau bergembira ketika terjebak macet. Maka pola macet di Bandung jika weekend, jumat sore sampai dengan sabtu akan selalu disesaki mobil dari arah luar kota. Sedangkan, minggu sore dan setelahnya disesaki mobil yang ingin keluar kota Bandung.
Situasi ini telah terjadi bertahun-tahun lamanya. Weekend menjadi serpihan waktu yang telah berderet panjang dan bisa saja tak terhitung. Sebab, bisa saja mereka yang berwisata weekend di Bandung ada yang tutup usia, digantikan anak dan cucunya. Yang pasti, wisata telah menjadi kebiasaan menahun bahkan seperti menuru kepada saudara, keluarga, tetangga dan lain sebagainya.
Wisata telah jadi mode atau trend. Pikirnya, gak keren kalo misal dia orang Jakarta trus nggak weekend di Bandung misalnya. Ada juga wisata sebagai solusi atas stress yang diderita setelah 5 hari bekerja. Entahlah, banyak motif yang dimiliki oleh pelancong dalam berwisata sehingga kawasan wisata seperti Bandung selalu penuh sesak jika weekend atau musim libur lainnya.
Tempat wisata telah jadi rumah kedua, atau mungkin telah menjadi rumah pertama. Sebab, pada hari-hari kerja biasanya terhabiskan oleh waktu di jalanan (karena macet) dan dikantor.Rumah hanya sebagai tempat tidur sesaat, mandi dan ganti baju saja. Tak ada berbagi cerita dan cinta layaknya sebuah komunitas. Rumah tak lagi dibetahi sehingga tempat wisata menjadi tempat yang dibayangkan selalu nyaman, indah dan membahagiakan.
Gejala flight syndrome telah mewabah. Banyak orang membayangkan kenyamanan apabila berada di tempat yang ada dibayangan mereka. Rumah sebagai tempat berpijak dianggap tempat yang perlu ditinggalkan dan berganti ke tempat lain seperti plaza, hotel, pemandian dan tempat lain yang dibayangkan jauh lebih membahagiakan.
Pertamanya hanya mencoba, akhirnya ketagihan. Ada rasa tak enak bila dalam sebulan, atau setengah tahun misalnya tak berwisata. Ada galau yang siap untuk ditumpahkan dengan berwisata. Soal uang tak jadi masalah, karena uang tak ada artinya bila dibanding kebahagiaan.
Inilah kenyataan sebagian masyarakat kita, yang telah menjadikan wisata sebagai sebuah pilihan bahkan keharusan. Konsep wisata yang harusnya back to home, tapi dirubah out from home. Tapi hukum resah itu laksana bayi, semakin disusui maka semakin haus dan kuat sedotannya. So, jika benar para pelancong itu berhasil menghilangkan resah dengan melancong ,sudah seharusnya tak ada lagi resah sekembalinya dari tempat wisata.
Tampaknya sebagian masyarakat Indonesia telah terjangkit penyakit Galau. Penyakit yang bersumber pada keadaan yang dianggap kurang mengenakan. Mulai dari jalanan macet, dimarahi pimpinan, tekanan pekerjaan, konflik kerja sampai dengan berita tak sedap di televisi ataupun koran.
Semuanya ingin lari dari masalah dengan berwisata. Ternyata, sifatnya hanya sesaat karena besoknya akan kembali lagi setelah mendapat keresahan yang sama, atau volumenya yang berbeda. Ya, galau telah menjadi penyakit modern dan sudah semestinya ada gerakan penyadaran tentang hal ini agar pengurangan atau penghilangan galau tak harus dengan keluar dari rumah sebagai syurga pertama dan terakhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar