Sabtu, 19 April 2014

Prasojo wae...

    Prasojo adalah istilah Jawa. Ia memiliki arti yaitu sederhana. Hampir serupa dengan kata ini adalah sakmadyo yang berarti secukupnya atau sepantasnya. Prasojo dan sakmadyo adalah kosakata yang biasa dijadikan pitutur atau nasehat untuk sebuah laku (pilihan sikap) dalam menjalani kehidupan.
    Pitutur mulia ini biasanya ditujukan agar seseorang tidak terjebak dalam perilaku berlebihan, apalagi diluar batas. Sebagai makhluk yang diliputi beribu keinginan, manusia harus memiliki kendali agar tidak terjebak ketidakpantasan atau bahkan kehinaan karena sikap berlebihan. Sebab, sikap inilah yang kadang menjadi sumber siksa.
  Prasojo dan sakmadyo, antar satu orang dengan orang lainnya mungkin berbeda ukuran dalam penerapannya. Namun, bukan berarti tidak ada kesamaan pandang. Yang dimaksud hidup sederhana, secukupnya atau sepantasnya itu apa tentu berdasar common opinion atau pendapat umum yang muncul dan mengalir di tengah masyarakat.
   

Minggu, 13 April 2014

Lumpur Hati? Waspadai...

Alkisah, di sebuah desa kecil di pinggiran hutan terdapat sebuah waduk penampung air. Waduk tersebut sangat dibutuhkan oleh penduduk desa. Salah satunya untuk mengairi sawah. Setiap harinya terdapat lima anak sungai yang mengaliri waduk tersebut. Maka debit airnya pun selalu berlimpah. Suatu ketika, orang yang dituakan di desa itu mendapat sebuah “wangsit”. Pesan dalam wangsit tersebut menyebutkan, agar seluruh penduduk desa membabat seluruh pohon yang ada di sekitar sungai untuk keselamatan desa.

Akhirnya dilaksanakanlah pesan tersebut. Seluruh penduduk desa sambil membawa parang dan sabit pergi ke daerah aliran sungai. Tak sampai setengah hari, seluruh pohon terbabat habis. Merekapun bersukacita dan berpesta karena merasa telah melaksanakan wangsit dengan sebaik-baiknya. Satu tahun kemudian, sebagian petani mengeluhkan kecukupan air di sawahnya. Setelah diteliti, ternyata hampir seluruh sawah mengalami krisi air.

Minggu, 06 April 2014

Perbanyak Menuding Diri

Apa rencana anda merayakan datangnya tahun baru? Wisata bareng keluarga kah? Kencan dengan kekasih tercinta? Jalan bareng dengan club motor atau mobil? Nonton konser musik kesukaan dari mulai pop, rock, sampai dangdut? teriup terompet ramai-ramai ? atau kegiatan happy lain baik yang mungkin belum terencana pasti.

Ya, apapun rencana yang telah disusun, yang pasti berita beberapa hari lalu menyebutkan bahwa seluruh hotel di kawasan puncak, bandung, surabaya, bali dan kota-kota wisata lain telah ludes dibooking beberapa hari menjelang tahun baru. Tiket pesawat, kereta api, kendaraan bis untuk berbagai destinasi juga banyak banyak yang sudah dibooking.

Seperti ulasan saya beberapa waktu lalu, bahwa semua itu merupakan pilihan. Tentu tak bisa dihakimi karena masing-masing punya cara pandang sendiri. Bagaimanapun tahun baru tetap dinilai sebagai momen istimewa karena dalam setahun hanya terjadi satu sekali saja. Wajar bila nuansa acara yang digelar dipenuhi gebyar dan glamour.

Ijazah bukan Penentu Nasib

Tahun 2003, selepas wisuda di bulan november terselip bingung di pikiranku. Mencari kerja yang cocok berbekal ijazah sarjana sejarah. Berbagai berita lowonganpun kuakses. Koran, tentu rajin kubuka setiap hari sabtu yang memang menjadi hari nasional pengumuman lowongan. Tak hanya koran lokal seperti radar jember ataupun Jawa Pos, tapi koran nasional sekelas Kompaspun tak kulewatkan.

Untuk menyempurnakan ihtiar, kucari berita dari internet. Lowongan satu ke lowongan coba kuperhatikan. Jika hanya diminta kirim email, maka keberaniankupun muncul. Tak peduli sesuai persyaratan atau tidak, yang penting kirim. Urusan dipanggil atau tidak yang penting setiap hari atau minggu selalu ada kemajuan melamar kerja.

Hari berganti bulan. Hampir satu tahun lamanya aku tidak mendapat panggilan test kerja. Hatipun harus dipaksa tegar (kata lain malu) menyandang status pengangguran. Dalam permenunganku, apakah semua itu berhubungan dengan ijazahku yang hanya lulusan sejarah. Sebagian orang, termasuk juga teman-teman dekatku, meragukan nilai jual ijazah ini.

Mengapa Kita Suka Berlebihan?

Prasojo adalah istilah Jawa. Ia memiliki arti yaitu sederhana. Hampir serupa dengan kata ini adalah sakmadyo yang berarti secukupnya atau sepantasnya. Prasojo dan sakmadyo adalah kosakata yang biasa dijadikan pitutur atau nasehat untuk sebuah laku (pilihan sikap) dalam menjalani kehidupan.

Pitutur mulia ini biasanya ditujukan agar seseorang tidak terjebak dalam perilaku berlebihan, apalagi diluar batas. Sebagai makhluk yang diliputi beribu keinginan, manusia harus memiliki kendali agar tidak terjebak ketidakpantasan atau bahkan kehinaan karena sikap berlebihan. Sebab, sikap inilah yang kadang menjadi sumber siksa.

Prasojo dan sakmadyo, antar satu orang dengan orang lainnya mungkin berbeda ukuran dalam penerapannya. Namun, bukan berarti tidak ada kesamaan pandang. Yang dimaksud hidup sederhana, secukupnya atau sepantasnya itu apa tentu berdasar common opinion atau pendapat umum yang muncul dan mengalir di tengah masyarakat.

Cintailah Bumi, agar Bumi Balas Mencintai

Jumat, 7 Desember 2012 lalu, saya mendatangi desa Wanayasa. Desa dengan kontur pegunungan ini, merupakah salah satu desa di kecamatan Beber, kabupaten Cirebon. Persisnya di bagian selatan Cirebon, arah ke kabupaten Kuningan.

Setelah mewawancarai beberapa warga di sawah, saya mendatangi Kantor Desa. Disitulah saya bertemu beberapa kaum ibu, termasuk Kuwu (red.Kades). Tampak terlihat beberapa makanan yang dibungkus kresek sedang ditata, sementara kaum ibu yang lain silih berganti datang mengantar makanan.

Kejadian itu membuatku terusik bertanya.
“mau ada acara apa Bu?” tanyaku pada Kuwu perempuan tersebut.
“oohh ini, setelah sholat jumat nanti mau ada selamatan”, terangnya
“Selamatan untuk apa Bu?”, tanyaku lagi
“Ya, tujuannya untuk sedekah bumi, itung-itung sebagai tanda syukur lah..” terangnya.

Kurangi Galau

Gerbang Tol Pasteur Kota Bandung adalah satu dari sekian saksi betapa banyaknya mobil yang memasuki Kota Bandung setiap kali weekend. Ratusan mobil bahkan pada musim tertentu mencapai ribuan unit, setia mengantarkan penumpangnya. Cihampelas, Cibaduyut, Gedung sate, Factory Outlet, tangkuban perahu, kebun teh lembang, outbond sampai dengan tempat pemandian air panas Ciater ramai dikunjungi.

Weekend menjadi saksi waktu betapa padatnya setiap sudut jalan di Kota Bandung.Ia juga menjadi saksi tingginya okupasi hotel berbintang seperti TransStudio, Hilton yang semalem bisa mencapai Rp.4-5 juta untuk jenis kamar tertentu. Tak mau kalah, hotel melati sampai dengan penginapanpun selalu penuh sesak. Selain hotel, plaza selalu ramai dikunjungi.